Pendidikan Berlandaskan Cinta-Chapter 3

Seiring berkembangya zaman, problematika pendidikan pun turut berubah. Persoalan yang harus dihadapi saat ini bukan lagi masalah mencerdaskan peserta didik. Lebih dari itu, masalah yang harus dihadapi dunia pendidikan Indonesia adalah bagaimana membentuk karakter dan kepribadian peserta didik agar sesuai dengan karakter dan kerpribadian bangsa Indonesia.

Hakekat pendidikan yang dirumuskan oleh pemerintah untuk memanusiakan manusia tampaknya harus mulai lebih dipahami untuk bisa diterapkan dalam sistem pendidikan.

Pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai moral sebagai fondasi bagi terbentuknya generasi yang akan menjadi penerus. Saatnya kita meninggalkan metode lama mengajar yang hanya sekadar melaksanakan tuntutan tugas dan mengejar target kurikulum semata sehingga tak ada idealisme menjadi seorang guru.

Sudah waktunya untuk meninggalkan tatacara  mengajar tanpa dilandasi hakikat dari mengajar itu sendiri. Mengubah paradigma dan cara berpikir ini tentu bukan hal gampang. Guru dituntut untuk kembali seperti yang Ki Hajar Dewantara katakan yakni seorang yang ing ngarso sing tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayanai. Guru dituntut bukan hanya mengajar, tapi mendidik.

Menurut Albert Einstein, dengan hanya mengajarkan anak menghafal mata pelajaran, tidak ada bedanya dengan melatih seekor anjing. Menurut Einstein, “With his specialized knowledge-more closely resembles a well-trained dog than a harmoniously developed person.”

Sudah saatnya guru mendidik siswa dengan professional dan penuh cinta kasih. Bukan karena selama ini para guru mengajar tanpa cinta kasih. Pendidikan selama ini disinyalir hanya menghasilkan manusia robot yang siap pakai bagi kebutuhan pasar. Oleh sebab itu, perlu adanya perubahan sistem pendidikan agar hasil pendidikan yang ada di Indonesia dapat berkembang lebih baik dan menciptakan manusia-manusia yang sadar akan diri, karakter dan kepribadian bangsanya.

Daftar Pustaka :

Azra, Azyumardi. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta:  Buku Kompas.

Freire, Paulo. 1973.  Education for Critical Consciousness, New York: The Continuum Company

Baedhowi  dan Suparlan. 2006. Mendidik Dengan Cinta. www.duniaguru.com

Ratna Megawangi, Mendidik Manusia Atau Anjing. http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000402.php

Permadi, Wahyu Pendidikan Yang Membebaskan, http://whypermadi.wordpress.com/2007/04/16/pendidikan-yang-membebaskan/

Y Priyono Pasti, Menuju Pendidikan Demokratis-Humanistik, Kompas, 23 juli 2005. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0507/23/Didaktika/1916660.htm

M.R. Kurniadi, Pendidikan Yang Membebaskan. http://www1.bpkpenabur.or.id/kps-jkt/berita/9806/pndidik2.htm

D. Widiastono, Tonny. 2004. Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Buku Kompas.

2 thoughts on “Pendidikan Berlandaskan Cinta-Chapter 3

  1. Yaa apapun ilmu pengetahuan itu penting, karena itu proses belajar tidak mengenal kata berhenti…. Oh iya bukankah Allah SWT meninggikan derajat insan yg berilmu ??

    1. ya tapi pengetahuan yang digunakan dalam hal apa yang memberi berkah dan pengetahuan yang digunakan untuk apa yang memberi laknat harus diketahui juga termasuk bagaimana mentransfer pengetahuan yang berkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s